Rabu, 31 Juli 2013

Berharap Memeluk Bulan


Nasib penghuni siswa jenjang akhir adalah kejenuhan menyelesaikan latihan soal setiap hari di setiap mata pelajaran sebagai persiapan ujian akhir nasional. Seperti saat ini saat kami harus mengerjakan empat puluh soal bahasa Indonesia sebagai ganti Pak Agus yang absen mengajar. Baru setengah soal kukerjakaan rasa kantuk menyerangku dengan hebat. Kalau bukan karena harus dikumpulkan saat itu juga mungkin aku sudah tertidur. Namun rasa kantukku hilang seketika saat pendengaranku menangkap topik menarik dari Edi dan Arif yang duduk di samping kananku. Sepertinya nama yang jadi topik pembicaraan mereka tidak asing bagiku. Untuk memastikan kebenaran itu kusimak setiap pembicaraan mereka.

“Beneran Rif, dia itu cantik pake kerudung lagi”
“Siapa sih, aku ga pernah lihat kalau maen ke tempatmu”
“Dia itu anak pindahan”
“Namanya Mela sekolah di SMP Muhammadiyahkan?”
Edi menatapku dengan kesal
“Jangan sok tau deh”
Balas Arif dengan tidak kalah sengitnya
“Beneran, adikku sekelas dengannya. Anaknya pintar, cantik, kulitnya putih dan dia punya kembaran yang namanya Meli tapi beda warna kulit”
Edi melihatku dengan tatapan tidak percaya
“Nanti aku bilang lewat adikku kalau kau nitip salam buatnya”

Dua hari kemudian setelah kupastikan Dik Via mendapat jawaban. Saat itu Bu Warni sedang ke luar meninggalkan serangkaian soal biologi yang harus kami kerjaan.
“Edi, adikku sudah sukses ngasih salam ke Mela tuh”
“Ayo cerita mumpung Bu Warni belum kembali”
“Kata Adikku gini Mba Mela dapat salah dari Mas Edi, trus Mela jawab gini: Mas Edi itu siapa? Itu loh tetanggamu yang sekarang kelas 3 D SMP 1. Kaya apa orangnya? Kata Mba Vie anaknya kurus kecil dan rambutnya lurus” Sepertinya Mela lagi inget-inget kamu Ed, makanya rada lama baru dia bilang “Ga kenal tuh”
Arif, Mega dan Topan yang kebetulan duduk di dekatnya spontan tertawa terbahak-bahak. Kulihat mukanya merah, padahal sungguh tak ada niat membuatnya malu. Aku hanya menceritakan kembali jawaban adikku tanpa ada tambahan sedikitpun apalagi jawaban itu kedapat kemarin sore.
“Makanya Edi, kalau naksir sama gadis minimal dia kenal kamu”
Hibur Arif sembari menepuk pundak teman sebangkunya itu
“Aku ga bohong loh”
Bener juga sih kalau kita naksir sama orang minimal dia tau kita itu. Lebih baik bertepuk sebelah tangan daripada seperti pepatah Ibarat punuk berharap memeluk sang bulan.

Batam, 28 Juni 2013
Vidya Putria Rawas


Kupu-Kupu Kertas

Wahai Remaja Muslim, Kalian bukan Kupu-Kupu Kertas

Remaja adalah generasi harapan negara, apalah jadinya jika remaja menjadi sosok yang rapuh, mudah terbawa arus dan tidak memiliki visi misi hidup yang jelas dan benar. Arus globalisasi menyeret remaja menjadi individu egois dan hanya berorientasi kesenangan jasmani. Tawuran sebagai ajang pembuktian kehebatan yang salah kerap kali menjadi pelampiasan emosi hanya karena hal sepele. Pornografi menggiring remaja rapuh untuk melampiaskan nafsu seksual mereka dengan cara yang salah seperti freeseks bahkan sampai dijadikan peluang bisnis yang beromzet ratusan juta dengan pelaku pelajar. Seperti inikah generasi yang kita harapkan?

Selain tawuran dan prostitusi, remaja juga dijangkiti penyakit egois parah. Di tengah ketidakmampuan pelajar lain  membayar uang sekolah, dengan bangga mereka membuang minimal ratusan ribu hingga jutaan rupiah dalam semalam. Konser Justin Bieber, Katty Pery maupun Super Junior membuktikan betapa ketenaran mereka mampu mengusir sikap peduli dan empati. Ini dilakukan hanya sebagai ajang status di dunia maya maupun pengokohan label gaul di dunia nyata. Kebanggaan yang luar biasa manakala memiliki tiket dan bisa berfoto dengan artis panutan, minimal memotret aksi panggung mereka. Kebanggaan ini merurut mereka sebanding dengan usaha mereka dalam menyisihkan jatah bulanan untuk ditukar dengan selembar tiket.

Kupu-kupu kertas merupakan gambaran remaja yang cantik penuh warna namun rapuh. Sebagai remaja muslim haruskan mengikuti arus menjadi kupu-kupu kertas? Siapa saja yang berusia balig maka pembebanan hukum syara sudah melekat padanya baik itu remaja yang seringkali dimaklumi untuk berbuat salah. Lalu, bagaimana dengan gambaran remaja ideal?

Remaja ideal adalah remaja cerdas karena Islam. Islam  tidak sekedar menuntunnya dalam sholat atau puasa ramadhan tetapi juga dijadikan panduan dalam berfikir, bersikap dan berpendapat. Islam yang mereka yakini mampu menjadikannya setegar karang dalam menghadapi gempuran westernisasi yang merusak namun bisa selembut sutera dalam memperlakukan kedua orang tuanya. Mereka tidak hanya berprestasi di sekolah tetapi memiliki kepribadian islam yang kuat, minimal bukan trouble maker di sekolahnya. Merekalah panutan sejati bagi teman-temannya dan harapan bagi orang tua. Bagaimana mewujudkannya?

Mewujudkan remaja yang cerdas bisa dimulai dari usaha untuk memahami  agama, dengan mengikuti kajian Islam rutin. Mengapa hal ini penting? Pemahaman agama yang benar akan menjadi panduan remaja dalam bersikap dan sebagai benteng menyaring serangan budaya asing yang merusak.  Pemahaman yang benar menjadikan remaja memiliki visi hidupnya yang jelas sehingga bisa memaksimalkan waktunya untuk hal-hal yang bermanfaat. Prinsip materi menjadi faktor kuat orang tua dan pelajar rela menghabiskan uang dan waktunya untuk mengikuti les daripada kajian islam yang lebih bermanfaat sudah begitu gratis lagi.

Usaha kedua yaitu memaksimalkan potensi dan berani mengikuti ajang bakat. Sekarang ini berbagai lomba diadakan untuk remaja  seperti lomba menulis, berpidato, karya ilmiah, olimpiade sains, dan lainnya. Ajang bakat memang tumbuh subur di negri ini hanya saja lebih mengutamakan ajang bakat seni karena dianggap lebih cepat mendatangkan kekayaan dan banyak didukung swasta yang bergerak di bisnis tersebut. Adapun ajang lain dinomorduakan baik dari fasilitas maupun bentuk penghargaannya.

Kedua hal di atas penting, remaja adalah potret pengisi masa depan sebuah generasi terutama remaja islam. Apa yang bisa diharapkan dari Islam jika remaja yang mereka miliki lebih tertarik dengan budaya barat atau budaya korea? Waktu yang dimiliki dihabiskan untuk melahap dan memahami drama korea atau film Hollywood. Hasilnya secara fisik mereka dewasa tetapi tidak mandiri dan tidak memiliki visi hidup yang jelas. Seandainya hidup adalah perumpamaan maka pilihlah hidup seperti lebah, bukan kupu-kupu yang indah sesaat apalagi kupu-kupu kertas. Wallahu’alam
                                                                                                            Batam, 22 Juni 2013
                                                                                                            Vidya Putria Rawas






Minggu, 26 Februari 2012

Muslimah Berkarier

Bekerja mubah hukumnya bagi muslimah. Ketika muslimah beraktivitas di luar rumah, maka ia harus tunduk pada aturan Islam antara lain:
a.      Mendapat izin dari walinya baik suami, ayah maupun mahramnya.
b. Berpakaian sesuai aturan Allah yaitu dengan memakai jilbab ("Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka" TQS. al-Ahzab [33]: 59) dan kerudung (Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya. TQS. an-Nur [24]: 31)
c.       Menjauhi khalwat (berdua-duaan dengan lelaki non-mahram), ikhtilat (campur baur dengan lawan jenis) dan tidak memperlembut tutur kata ketika berbicara serta menundukkan pandangan dan berjalan sewajarnya.
d.  Perjalanan yang membutuhkan jarak dan waktu yang lama, wanita harus didampingi mahramnya. Dalam sebuah riwayat disebutkan “Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk melakukan perjalanan selama tiga hari atau lebih kecuali bersama ayahnya, atau suaminya, atau anak laki-lakinya, atau saudara laki-lakinya atau mahramnya. (HR Muslim)”

Menurut Adnan (2010) ketika seorang wanita memilih untuk bekerja, maka ia harus memperhatikan kaedah fiqih tentang pekerjaan mana yang boleh dan mana yang dijauhi. Pertama, pekerjaan yang haram bagi muslimah yaitu pekerjaan  di bidang kepemimpinan umat. Seperti kepala negara, pemegang kekuasaan kehakiman. Bidang militer seperti pemimpin jihad, polisi lalu lintas, satpam. Bagian transportasi seperti pramugari, pilot, dan supir. Selain itu menjalani profesi sebagai penyanyi yang menyanyi di depan laki-laki bukan mahram.
Kedua, pekerjaan yang boleh dilakukan seperti dokter, perawat, laboratorium, pemilik perusahaan, guru, pertekstilan, pertanian, perniagaan, peternakan, dan salon. Untuk bidang kecantikan, harus sesuai dengan hukum syara seperti tidak menyambung rambut, mentato, mengikir, mencabut alis. Tidak melihat aurat, tidak menceritakan kecantikan seseorang ke laki-laki asing dan tidak memakai alat atau bahan kosmetik yang berbahaya dan haram.
Ketiga, pekerjaan yang menjadikan bentuk fisiknya  dan kecantikannya sebagai asset seperti pramugari, artis, model dan sebagainya. Pekerjaan ini haram dikerjakan bagi muslimah.
Islam memuliakan wanita, ia tidak dibebani untuk  mencari nafkah. selama hidupnya, nafkah mereka ditanggung oleh ayah, saudara laki-laki, suami, dan anak laki-laki mereka. itulah mengapa bekerja mubah hukumnya. saat  muslimah memutuskan untuk bekerja, pilihlah pekerjaan yang tidak melalaikan kewajiban utama mereka yaitu sebagai pendidik anak-anaknya.  senangnya berbagi.
by 
Vidya Putria Rawwas

Muslimah Berkualitas

Wajah cantik, tubuh langsing, kulit putih, ditunjang penampilan modis dan tutur kata lembut seringkali dipandang sebagai wanita berkepribadian tinggi. Ajang kontes kecantikan mulai dari lokal sampai internasional pun diadakan untuk memilih wanita dengan kategori ini. Standar penilaiannya  tiga B yaitu beauty, brain dan behavior. Namun, benarkah itu pula yang menjadi standar baku kepribadiaan wanita muslim (muslimah)?
Landasan yang menjadi tolok ukur kepribadian seseorang, bukanlah ditentukan kecantikan wajahnya maupun penampakan fisik lainnya, tetapi dilihat dari pemikiran dan perilakunya. Ukurannya adalah sejauh mana ketaatannya sebagai seorang hamba kepada Sang Khaliq, serta kuantitas dan kualitas amal perbuatannya dalam melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya semata-mata untuk meraih keridlaan-Nya. Allah Swt berfirman dalam surat al-Ahzab:
Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu'min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta'atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (TQS. al-Ahzab [33]: 35)

Muslimah semestinya mengukur kepribadiannya atas dasar ketakwaannya kepada Allah Swt. Sebab, dengan ketakwaan inilah Sang Khaliq menilai umat manusia, dan dengan ukuran ini pula Dia meninggikan derajat seorang manusia dari manusia lainnya. Allah Swt berfirman dalam surat al-Hujurat:
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. (TQS. al-Hujurat [49]: 13)

Kepribadian yang mulia inilah yang akan melahirkan perbuatan yang mulia pula. Sebagai seorang muslimah hendaknya memahami bahwa tolak ukur perbuatan manusia adalah perintah dan larangan Allah. Oleh karena itu, muslimah harus memahami hukum syara perbuatan tertentu sebelum dikerjakan. Karena Allah akan meminta pertanggungjawaban atas perbuatan di akhirat. Rasulullah telah bersabda yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi
“Tidak akan beranjak kedua kaki seorang hamba pada hari Kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia dihabiskan; tentang ilmunya, apa yang telah diamalkan; tentang hartanya dari mana ia peroleh dan ke mana ia habiskan; dan tentang tubuhnya-capek dan letihnya-untuk apa ia gunakan”

Dengan demikian, sebelum kita melakukan suatu perbuatan, kita harus mengetahui status hukumnya. Apakah perbuatan tersebut hukumnya wajib atau haram sehingga kita dahulukan pengerjaannya maupun meninggalkannya. Sunnah yang menjadi pilihan kedua setelah kewajiban tertunaikan, dan mubah yang menjadi pilihan kita untuk melakukannya berdasar manfaat apa yang  bisa kita dapatkan. Atau makruh yang sebaiknya kita hindari. Semuanya bisa kita peroleh dengan menyediakan waktu, pikiran, harta maupun tenaga yang kita miliki untuk menuntut ilmu. Rasulullah telah bersabda bahwa:
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”(HR Ibnu Majah)
Selain itu,
Ummul mukminin ‘Aisyah ra pernah berkata “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Rasa malu tidak menghalangi mereka untuk memperdalam ilmu agama”

Ilmu yang kita milikipun tdak semata menjadi milik kita. Ilmu harus kita bagi, sehingga ilmu kita bermanfaat. Tahukan kita bahwa ada pahala yang senantiasa mengalir terus menerus? Ya dengan menyampaikan ilmu yang kita miliki, kita bisa meraih pahala tersebut. Bayangkan jika kita berhasil mengubah seseorang yang tadinya tidak mau sholat lalu menjadi rajin bahkan lebih rajin dari kita lalu ia menyampaikan ke temannya dan seterusnya. Setiap kali mereka sholat, Insya Allah kita mendapat pahalanya juga, Rasulullah bersabda,
“Barang siapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun…(HR Muslim)

Muslimah berkepribadian mulia adalah individu yang menggunakan Islam sebagai acuannya dalam berpikir, berkata dan bertindak. Sehingga ia tidak membabi buta meniru dan mengikuti segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Bukan pula seorang yang terbelenggu dengan perasaan rendah diri akibat penampilannya; tetapi sebaliknya, seorang muslimah adalah seorang yang penuh percaya diri karena islam sebagai keyakinannya. Ia bukan seorang wanita yang asyik dengan citra dirinya, penampilan fisiknya, atau kehidupan pribadinya. Semua ini akan menjadikan muslimah menjadi sosok dengan kepribadian yang mulia. 
ARTI HADIRMU DALAM HIDUPKU

Ibu, kepergianmu meninggalkan sejuta kenangan indah
Engkaulah yang membawaku tunduk pada Rabbku
Alif ba ta tsa tak hanya kau ajarkan, tapi kau memintaku utk mengamalkannya

Ibu, sosok tegar yang kurindu
Engkau mengenalkanku makna kehidupan
Mengajariku kepercayaan, tanggung jawab dan pengorbanan
Mengamalkan kejujuran, keteguhan, dan kemandirian

Ibu, tahukah engkau
Senyummu meredakan amarahku
Dekapanmu mengusir takut dan sedihku
Uluran tanganmu selalu ada untuk menolongku

Sungguh Ibu, wanita yang kucinta
Suara indahmu menyadarkanku saat terlena
Tatapan matamu menentramkanku
Kasih sayangmu mengalir di setiap aliran darahku

Walau itu semua tak lagi kurasakan
Jangan khawatir Bu
Kau meninggalkanku dengan bekal yang melimpah
Yang sanggup kubagi dan akan diwariskan dari generasi ke generasi

Walau takan sempurna baktiku padamu
Kuberharap semoga Allah membalas dengan jannah
Atas semua pengorbanan yang kau berikan

Sabtu, 17 Desember 2011

Menjelang Hari Ibu


Ketika Ibu2 lain mengirim gadis & bujang mrk ke Jkt/Jepang
Ibuku mengirim kami ke kampus2 utk menuntut ilmu sesuai pilihan kami.

Disaat Ibu2 lain risau memikirkan tagihan sekolah
Ibuku dg yakin berkata "insya Allah ada rizkinya" dan terbukti tak ada satupun dari sebelas anaknya keluar dari sekolah tanoa ijazah di tangan mereka.

Di tengah kekhawatiran Ibu2 lain melihat anak gadisnya ngaji, berjilbab dan berkerudung tanpa pacaran, yang takut susah dapat kerja bagus dan jodoh.
Ibuku malah bangga dan berkata "jangan khawatir, rizki sudah ada yang ngatur, yang penting kamu jadi orang bener"

Itulah Ema Sari, Ibuku..
Beliau tidak pernah merasakan manis pahitnya pendidikan. tapi cara pandangnya mampu mengalahkan sarjana.
Seseorang yg tak pernah mengeluh dengan keterbatasaanya
Seseorang yg sll sabar dan tawakal menghadapi setiap masalah yg menimpanya
Seseorang yg sll optimis akan datangnya pertolongan Allah dalam hidupnya
Sosok nyata teladan wanita dalam hidupku

Ya Allah, sampaikanlah salam rinduku padanya
Katakan padanya bahwa aku bangga & bahagia menjadi putrinya
Terima kasih Ya Allah, telah menjadikannya sebagai Malaikat Penjagaku

Kamis, 06 Oktober 2011

Ema, the beautiful girl and everlasting love


Ema, the beautiful girl and everlasting love
By Vidya Putria Rawwas
Pepatah mengatakan “sesuatu akan menjadi berharga ketika sudah merasa kehilangan”. Pepatah ini tidaklah tepat jika disandarkan kepada Ema. Seumur hidup sejak bersama, berpisah jauh, sampai berpisah di dunia berbeda pun, Ema tetaplah berharga. 
Dalam benakku Ema adalah sesosok wanita tegar, sabar, tulus, ikhlas, dan selalu optimis akan pertolongan Allah. Beliau selalu tiada berhenti menasehati anaknya dengan suaranya khas tidak berhenti sebelum perintahnya dilakukan. Bahkan ketika Aku pulang, dengan sengaja melakukan hal yg tidak beliau disukai dengan tujuan untuk mendengar suaranya. Setiap kali kami bercanda dengan suara keras, beliau bilang “heh, eling umah pinggir dalan”. “sholat aja diende-ende” begitu ucapnya setiap kali kami nonton tivi sampe malam sebelum sholat isya.
Aku dan adekku pernah sekali kepala kami diadu, karena ketahuan lalai sholat dhuhur karena keasikan maen selepas pulang sekolah. Pernah suatu kali aku bercerita  kalo tadi ga bayar ongkos bis karena tidak ditarik, Ema bilang “Jangan diulangi lagi, nanti ilmunya ga bermanfaat. Walau ga ditagih tetap harus dibayar”. Selama aku menempuh pendidikan dasar, menengah dan atas, Beliau memberiku uang saku yang hanya cukup untuk ongkos dan beberapa rupiah uang sisa yang kukumpulkan untuk member kebutuhan lain seperti pembalut, bedak, lks, dan buku. Ema bukanlah ibu yang pelit, tetapi beliau mengajarkan kepada kami untuk hidup prihatin. Jika kurang, barulah Ema menambahi. Mungkin diantara anak ema yang lain, akulah yang paling beruntung karena pernah merasakan jalan-jalan menghabiskan waktu hanya berdua, yaitu ketika jalan-jalan di Bumiayu dan Ema membelikanku sepatu yang harganya seingatku Rp 70.000.
Dalam usia 17 tahun Ema Sari dinikahi oleh Bapa Rawas. Beliau melahirkan 12 anak, 7 anak laki-laki dan 5 anak perempuan. Dengan penghasilan yang ga menentu dari hasil jualan buahnya, Ema harus menghidupi anak-anaknya tanpa pernah mengeluh sedikitpun akan keputusan Allah yang telah mengamanahinya anak yang banyak. sebagian besar waktu Ema habiskan untuk mencari nafkah, ini dikarenakan Bapa pernah 1 tahun tidak boleh bekerja karena menderita sakit TBC. Walau kami tidak dididik secara langsung, Allah senantiasa menjaga kami dari segala pengaruh buruk dan marabahaya. Di tengah kesibukannya mencari nafkah, Ema harus menghadapi ghibahan tetangga. Semoga dosa-dosa Ema dikurangi dengan ujian sebagai bahan ghibahan.
Idul fitri, 1 Syawal 1432 H atau bertepatan dengan senin 29 agustus 2011 merupakan kenangan terakhir kami bersama beliau jalan bersama menuju lapangan untuk sholat Ied dan besoknya silaturahmi ke tetangga dan ke Pak De Wuri, Pak De Kursin dan Bu De Mur. Setelah silaturahmi, Kaki Ema mulai terasa sakit, bahkan saat itu beliau sholat dengan duduk meluruskan kaki. Esok harinya setelah semua anaknya kumpul, Ema diajak periksa di RS Soesilo Slawi. Kadar gula Ema dan tekanan darah tinggi. Saat itu Ema tidak dirawat dan hanya diberi obat.
4 september 2011, ema kembali  ngedrop lebih parah dari biasanya. Ema dibawa ke RS Aminah Bumiayu, kondisi jalan yang padat karena arus mudik, membuat kondisi Ema mengkhawatirkan sehingga dirujuk ke RS Margono Purwokerto. Setelah di periksa kadar gula Ema hanya 30. Sejak itu Ema dirawat, dan didiagnosa terkena osteoarthritis. 8 september 2011 Ema pulang ke rumah, dan beliau harus dirawat di rumah untuk menyembuhkan kakinya. Sejak saat itu, semua aktivitas beliau dilakukan di atas tempat tidur.   
Untuk mengurangi radang sendinya, Ema mengonsumsi rebusan daun sirsak setiap pagi dan menjelang tidur. Selain itu Ema pun harus diit gula dan garam. Aku bersyukur masih bisa berbakti lagi padanya setelah setahun tidak mendampinginya. Dulu ketika masih kuliah di UNSOED, hamper sebulan sekali pulang untuk menjenguknya. Karena jarak yang jauh, setahunn terakhir aku hanya bisa berkomunikasi melalui telepon.
Kamis, 22 september 2011 menjelang shubuh Ema ga sadar. Setelah diperiksa kadar gulanya 273 ml/hg. Selama ini, ketika kadar gula Ema tinggi Bapa menurunkannya dengan ramuan herbal. Langsung saja kubuatkan rebusan daun sirsak, kuminumkan melalui sendok. Sekitar 12:30 kuminumkan rebusan ketan hitam, Alhamdulillah kadar gula Ema turun. Karena kekurangarutan dalam menghitung, kadar gula EMa menjadi 54. Dengan buru-buru kuminumkan 1 sendok sari kurma yang dilarutkan ke segelas air. Kuukur lagi kadar gula Ema menjadi 279. Setelah beberapa menit  langsung melonjak menjadi 377. Langsung kuminumkan rebusan ketan hitam sampai habis. Habis ashar kuukur gula Ema menjadi 303. Alhamdulillah ada penurunan, meski kondisi Ema tidak berubah.
Kondisi Ema terus berlangsung, sehingga akhirnya bapa memanggil orang untuk memeriksa Ema. Datanglah Mas Untung, perawat. Setelah diperiksa, tekanan darah Ema 80. Dan menurutnya Ema mengalami syok hiperglukomia. Akhinya dengan kendaraan milik Mas Edi yang kami sewa seharga Rp 200.000 Ema dilarikan ke RSI Harapan ANda Tegal.
Ema dirawat di ruang ICU dengan diagnose DM (kadar gula 563) dan penurunan kesadaran. Jum’at, aku dipanggil dokter penyakit dalam untuk menjelaskan kondisi Ema. Pak dokter menyarankan ketika seseorang didiagnosa menderita DM, maka ia harus mengkonsumsi obat seumur hidupnya. Jika tidak maka organ tubuh yang lain bisa rusak. Ada dua kemungkinan Ema bisa sadar kembali. Jika kadar uerium creatinum Ema tinggi, maka cuci darah dua kali bisa menyadarkan Ema. Atau jika ternyata kadarnya rendah, berarti diabetes Ema menyerang syaraf.
Kondisi terakhir, pembuluh darh Ema pecah dan Ema diprediksi stroke. Kami hanya bisa berusaha maksimal dengan pengobatan agar Ema bisa keluar dari ruang ICU meskipun membutuhkan waktu lama. Tapi berdasar pengalaman Bapa, usia Ema tidak akan lama lagi. Kondisi ini dilihat dari lidah EMa yang  melengkung ke atas, detak jantung yang melemah. Tentu saja kami tidak percaya mengingat senin sore kondisi ema membaik. Akhirnya aku, wa’I dan mas hasan memutuskan pulang. Karena ketidakpercayaan kami, ALLoh banyak member isyarat. Mobil yang biasanya tidak bermsalah mendadak mati, pohon mangga di belakang rumah tanpa angin mendadak patah, lampu belakang mendadak saklarnya susah dipencet.
Berdasar laporan mbaku, senin malam kondisi Ema memburuk bahkan pukul 01.00 dinyatakan kritis. 2:30 mba Muz menelpon agar mas hasan (anak ke3) jangan pulang dulu dan langsung ke rumah sakit. Kami akan menuju rs setelah kedatangan mas mif (anak ke2) yang baru datang jam 5 lebih. Jam 03:00 aku terbangun dengan mimpi Ema berdiri dan bilang ingin bicara dengan mas nur (anak sulung) dan dalam mimpi kukatakan padanya akan menelpon mas nur.
Dengan harap cemas kami di rumah menunggu kabar Ema. Kubersihkan rumah dan kucuci baju yang kubawa pulang dari RS. Selasa, 27 September 2011 tepat Jam 9 pagi terjadi pemadaman total walau tidak lama. Jam 9:30 mas hasan mengabarkan bahwa Ema, our beautiful girl dijemput malaikat untuk menghadap pemilik sejati manusia Alloh maha pencipta. Jam 11;30 Ema pulang dengan mobil jenazah. Ema dimandikan, Ema disholati, Ema dibawa ke pemakaman, Ema dikibur di peristirahatannya terakhir pada hari yang sama.
Selamat jalan Ema, malaikat penjaga yang Allah anugerahkan kepada kami. Wanita tertegar dan tersabar yang kucinta. Kepergianmu yang indah meyakinkanku akan tempat peristirahatanmu yg indah juga. Walau hanya 26 tahun kurang engkau mendampingi, mendidik dan menjagaku. Engkau kan selalu menjadi teladan nyata untuk menjadi wanita sholehah. Semoga Allah merahmatimu, mengampuni segala kesalahanmu, menerima amal ibadahmu dan menempatkanmu di tempat yang terindah. Amiin.